Bercerita Tentang Febuari dan Kita
Memasuki bulan Februari adalah kebahagian sendiri setelah kemarin
kupu-kupu berbincang dengan Januari. Bagi sebagian orang, Februari dianggap
sebagai bulan kasih sayang. Karena didalamnya ada sebuah hari khusus yang bercerita
tentang cinta. Berbeda dengan Aam, seorang pemuda asal grobogan yang melanjutkan
studi Sarjana di Universitas Sido Dadi (UNSID) Semarang. Aam menganggap semua
yang berbau dengan valentine adalah kepalsuan cerita cinta dengan segala
konflik sejarahnya. Aam berpikir cinta itu tidak cukup dinyatakan sekali dalam
setahun. Karena sejatinya cinta itu diumpamakan sebagaimana biji sebuah pohon
atau bunga yang ditanam. Perlu untuk menyiram setiap pagi. Sama dengan cinta
perlu diungkapkan setiap saat.
“Dreeet...drrret..”
saku celana bagian belakang Aam bergetar yang ditimbulkan dari panggilan telepon.
Ia pun mengambil Hp tersebut dan ternyata itu telphon dari Zaim seorang wanita
yang beberapa pekan lalu ia dekati dan saaat ini mereka menjalin hubungan yang
lebih dari hanya sekedar teman.
“Halo, selamat pagi pangeran. Ku harap kamu masih membawa
rindu” Awal yang manis dalam memulai
sebuah kata.
“Hai, selamat pagi juga peri cantik. Jangan tanyakan rindu padaku.
Karen itu puasaku untuk mendapatkanmu ketika kamu kembali. Kapan Kamu kembali?” Tanya Aam yang sudah tak kuasa menahan rindu.
“Jangan takut aku tak kembali. Besok 14 febuari mari kita pecahkan
bersama celengan rindu kita. Sekalian kita menikmati indahnya valentine di kota
Hebat.”
“Maaf aku memang rindu tetapi saat itu aku tak bisa menemanimu
apalagi di hari yang kurasa tiada istimewa bagi kita. Cukup ku tunggu hadirmu
dalam mimpiku.”
Dengan nada terkejut Zaim bilang “Apakah semenjak aku pergi ada
sosok perempuan lain yang menggantikan posisiku? Sehingga esok kamu lebih
menikmati kesibukanmu dengan dia daripada Aku?”
Dengan tenang Aam menjawab “Apakah rindumu telah melenakanmu
sehingga kamu sudah tak lagi percaya padaku? Sudahlah jangan kita bahas. Sampai
bertemu esok.”
Sebuah percakapan awal dari sekian hari tak saling terdengar suara
dua sejoli ini. Yah sejak dua bulan lalu Zaim dituntut harus pergi demi
memenuhi mata kuliah magang yang menempatkan ia di suatu desa kecil. Walau
percakapan itu harus berakhir dengan sedikit insiden. Keduanya tetap saling
memiliki rasa keinginan untuk segera bertemu.
***
Jum’at, 14 Febuari Za’im datang kembali untuk menginjakan kakinya pertama
kali di kota lawang sewu setelah beberapa bulan lalu ia tak menghirup bau
lumpia. Karena Aam tak bisa hadir menemui dengan alasan yang tak tahu akhirnya
Zaim meminta Nindi sahabat sedari SMA untuk menjemputnya.
“Nin, posisi dimana?” sapa Zaim kepada hanin mencari keberaadaanya
setelah sampai di stasiun lewat WA.
“di depan stasiun lagi duduk pake baju merah sambil menum teh.”
“ouh... ok menuju TKP.” Dengan berjalan cepat Zaim menuju tempat
yang disebutkan Nindi
Dalam perjalanan Hanin merasa diikuti seseorang laki-laki dengan
rambut gondrong. Merasa demikian akhirnya Zaim mencoba untuk berjalan cepat.
Dugaan Zaim benar Laki-laki itu masih mengikuti dengan langkah cepat juga.
Merasa ketakutan a khirnya Zaim mencoba untuk berlari. Melihat kebelakang Zaim
sudah tak melihat sosok laki-laki yang mencurigakan tersebut. Namun tiba-tiba
zaim terkagetkan ada orang yang menepuk pundaknya.
“Mbak,,,,,,”
Dengan wajah kaget dan reflek tangan langsung menampar muka orang
tersebut. Hingga suara gamparan terdengar nyaring seantero stasiun “Plak,,”
“Aduh... Kamu kenapa, Za?
Kok menampar saya apa salah saya?” dengan wajah marah Nindi mencoba tak
terima atas apa yang dilakukan Zaim padanya.
“Maaf, Nin. Saya refleks soalnya tadi ada laki-laki gondrong
menakutkanlah ngikutin saya. Beneran, suwer!! Maaf ya!.” Terang Zaim.
“Beneran, Za? Tapi kamu nggak apa-apa kan?” sambil membolak
balikakn badan zaim seolah-olah takut ada bagian yang hilang.
“Aman. Ayuh pulang aku pengen bernostalgia bagaimana indahnya kota
lumpia ini” Jawab Zaim sambil menenteng tas punggungnya menuju parkiran
“Siap, hari ini saya sopirin. Tapi dengan syarat kamu harus
ceritain pengalamanmu disana.”
“Siap, Ibu.” Jawab Zaim dengan senyum manisnya yang menggetarkan
setiap hati laki-laki yang melihatnya.
****
“Breek ......” suara pintu mobil yang dikantupkan. Zaim mulai
memulai safarinya ke kota kelahirannya. Ditengah perjalanan Nindi bertanya
kepada Zaim.
“Za, kok bukan Aam yang menjemput kamu? Kalian baru marahan ya?
Atau kalian udah putus karena LDR an?” pertanyaan dengan nuansa ledekan mencoba
dilemparkan Nindi.
“Nggak kok, Aam baru sibuk. Katanya belum bisa bertemu hari ini.
Aku nggak tahu apa yang dia sembunyikan. Tetapi yang jelas aku percaya doi
setia” jawab Zaim sambil mendengklengkan kepala menunjukan tidak terjadi
apa-apa.
“Ok, kita mau kemana?” tanya nindi menanyakan kemana ia harus
menggerakan Mobilnya.
“Kita ke kota lama saja yuh” putusan Zaim setelah melamun untuk
melabuhkan tempat tujuannya.
“Siap...” sanggup Nindi.
Kota lama adalah salah satu destinasi wisata yang ada di Semarang
dengan ciri khas bangunan aristektur belanda yah semacam kota tua di Jakarta.
Nuansa romans menyilumti setiap pojok tempat ini dengan sepeda-sepeda antik
yang dipajang di sepanjang jalan trotoar untuk turis berfoto. Namun
ditengah-ditengah keramaian kota hanin teringat dengan sebuah bangunan dengan
cat putih bertuliskan “Bethoven” dengan font yang identik dengan tulisan
Belanda kuno.
“Nin, gedung ini adalah saksi bisu dimana hari terakhir aku
berpamitan dengan Aam ketika aku akan pergi Magang.” Cerita serius Zaim.
“Trus? Apa yang istimewa?” jawab Nindi seolah tidak tertarik dengan
cerita temannya itu.
“disinilah dia mengatakan isi hatinya. Dan kamu tahu apa yang dia
katakan selain itu?”
“Beneran, Za. Emang apa?” tiba-tiba berubah sikap menjadi sosok
yang antusias.
“gini katanya “Kamu jangan terlalu mencintaiku, karena aku tak
bisa memastikan hatiku. Begitu juga Aku. Karena aku tak ingin ada hati yang
terluka saat takdir tidak menjodohkan kita. Percayalah aku adalah sosok yang
setia. Satu lagi, Aku memang bersikap cuek. tetapi, bukanlah berarti aku tak
cemburu melihat kamu dekat laki-laki lain. Mari kita coba bangun komitmen
bersama. Apapun yang terjadi nanti kita akan tetap berhubungan sebagaimana
biasa.” Dari saat itulah cerita kami dimulai”
To be Continued.....
Pertemuan Pertama
Menanggung sebuah
rindu adalah siksaan yang lumrah bagi setiap insan yang terpisah jauh dari sang
kekasih. Itulah yang Zaim rasakan selama ia menjalani masa magangnya. Zaim
sebetulnya tidak terlalu lama mengenal Aam. Tetapi, karena kebaikan Aam yang
selalu ada ketika ia membutuhkan membuat hati wanita mana yang tak tertawan.
Tak ayal Zaim mau menjalin hubungan dengan Aam. Stadium general kampus adalah
awal kali mereka bertemu. Ketika itu Zaim diberikan kesempatan untuk bertanya.
Mungkin karena gaya bahasa Zaim yang lugas nan tegas serta logik membuat Aam jatuh
terpikat. Hingga suatu saat Aam datang masuk kelas Zaim.Padahal Aam tidak
mempunyai jadwal di waktu dan tempat tersebut. tetapi khusus untuk bertemu
Zaim. Percakapan mereka dimulai ketika makul selesai.
“Halo, Zaim, perkenalkan saya Aam dari Fakultas Ekonomi.” Aam
mencoba untuk memperkenalkan diri kepada seorang yang telah menwan hatinya.
“Hai, Maaf lalu kenapa anda masuk kelas saya. Kita kan beda jurusan.
Saya kedokteran sedangkan kamu FE. Apa alasanmu? ” pertanyaan yang semakin
menunjukan bahwa Zaim adalah wanita yang tegas dan lugas tanpa basa basi.
“hehehe, maaf nyonya saya datang kesini untuk mengikuti langkah
jaka tarub yang menghampiri nawang wulan.” Goda Aam.
“Maksud anda apa?” dengan nada agak tingggi.
“Maksud saya anda nyonya.”
Tanpa kata Zaim meninggalkan Aam dengan harapannya. Melihat sikap
Zaim yang seakan-akan cuek semakin menambah rasa penasaran Aam kepada gadis
manis itu. Bebrbagai cara Aam coba untuk menaklukakn perempuan tersebut namun sikap
Zaim tetaplah tak acuh. Hingga suatu saat. Aam menghilang dari kehidupan Zaim.
Tak ada yang mengetahui kabarnya bahkan Angin pun tak tahu suara riuhnya.
Akirnya Zaim memutuskan untuk menemui temannya yang satu fakultas dengan Aam.
“Bang Roy, kamu kenal dengan Aam? mahasiswa Perbankan smt 6?”
“Nggak begitu kenal tapi bisalah abang cari tahu. Kenapa? Pacar
kamu ya?“ ledek Roy
“Bukan, bang. Baru Cuma temen”
“ouh, baru berarti berharap lebih dong. hhhh”
“Mohon bantuannya ya, Bang”
“Gini aja tunggu sbentar ya. Saya tanyakan dulu dengan ketua
mahasiswa jurusanya”
Roy, itulah panggilan teman Zaim. Lebih tepatnya senior zaim
sewaktu di SMA dulu. Dia menjadi salah satu aktivis yang berkkecimpung dalam
organisasi internal kampus. Jadi dia sangat terkenla dikalangan mahasiswa
Ekonomi.
“Za, tadi aku udah tanya ke ketua mahasiswa jurusan. Roy, itu anak
Perbankan smt 6 kelas C. Ia tingal di daerah Ngaliyan belakang kampus 3.
Komentar
Posting Komentar